Foto bersama PT Berau Coal dan Tetua Adat Dayak Ga’ay di acara Bekudung Betiung.

Perayaan Bekudung Betiung, bukan hanya sekedar perayaan hasil panen. Namun wujud syukur masyarakat Dayak Ga’ay akan hasil bumi yang diberikan Tuhan.

Ribuan masyarakat tumpah ruah, menikmati sajian dan pertunjukkan budaya yang disiapkan tuan rumah.

Alunan musik sappe mengalun lembut di telinga. Kanan kiri jalan masuk ke Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Sambaliung, dipenuhi warga. Tarian Hudoq menyambut para tamu undangan.

Setiap yang datang, akan mendapatkan gelang merah yang diikat si kiri tangan. Sebagai tanda terima kasih dan oleh-oleh dari masyarakat Dayak Ga’ai.

Perayaan Bekudung Betiung ini juga bertepatan dengan perayaan hari jadi Kampung Tumbit Dayak ke-262.

Berbagai kegiatan seni dilakukan mulai dari tarian, menyumpit, memanjat pohon madu, hingga ilustrasi perang pada zaman dahulu, untuk prosesi pendewasaan.

Ketua Adat Kampung Tumbit Dayak, Muksin banyak bercerita mengenai makna dari Bekudung Betiung, yang sudah bertahun-tahun dilaksanakan.

Bekudung sendiri memiliki makna, wujud syukur atas hasil bumi.

Bekudung bukan sekadar upacara, ia adalah bahasa cinta antara manusia dan alam semesta.

Setelah musim panjang bercocok tanam, membelah tanah, menanam harapan di setiap biji yang ditanam, dan menanti dengan sabar dalam irama waktu, kini tiba saatnya untuk merayakan hasil yang melimpah.

Dalam naungan langit yang bersih dan di pelataran Rumah Sunta, warga berkumpul dengan busana tradisional, membawa hasil bumi yang melimpah, berupa padi, umbi-umbian, buah-buahan, dan hasil hutan. Ditata rapi sebagai persembahan.

Penampilan salah seorang warga usai berperang dan dinyatakan telah dewasa oleh tetua adat setempat.

Doa-doa dinaikkan dengan khusyuk, mengalun dalam bahasa leluhur yang sarat makna. Memuji yang maha kuasa yang telah mencurahkan hujan pada waktunya, menghalau hama, dan menjaga ladang dari marabahaya.

Tabuhan gong dan gendang mulai terdengar, menggema seperti detak jantung bumi. Tarian pun dimulai. Gemulai, berirama, penuh penghormatan.

Para tetua memimpin dengan wibawa, membawa pesan tentang keseimbangan hidup, tentang pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan roh-roh penjaga semesta.

Bekudung adalah cermin peradaban, tempat ingatan leluhur dihidupkan kembali dalam wujud rasa syukur yang tulus.

Anak-anak belajar tentang nilai kerja keras, perempuan merayakan kebijaksanaan, dan lelaki meneguhkan peran sebagai penjaga kehidupan.

Semua larut dalam suka cita, dalam satu keyakinan: bahwa hasil bumi bukan hanya untuk dinikmati, tetapi untuk disyukuri, dijaga, dan dibagi.

“Ini ungkapan rasa syukur kami, kepada Tuhan, yang telah memberi rezeki,” tuturnya.
Sedangkan Betiung, merupakan suatu prosesi pendewasaan dalam tradisi leluhur.

Dalam khazanah budaya yang kaya dan sakral, terdapat satu perjalanan penting yang menjadi penanda kedewasaan seorang pria, sebuah proses spiritual dan simbolik yang dikenal dengan nama betiung.

Bukan sekadar ritual, betiung merupakan gerbang peralihan dari masa muda menuju tanggung jawab dan kehormatan sebagai laki-laki sejati di mata masyarakat.

Seorang pria belum dianggap layak mempersunting kekasih hatinya sebelum ia menapaki jalan betiung. Sebelum keberangkatan, ia akan melalui serangkaian upacara adat yang sarat makna.

Doa-doa dilangitkan dengan penuh khidmat, memohon perlindungan kepada leluhur dan kekuatan dari alam semesta.

Dengan mandau di sisi dan sumpit yang telah diasah tajam, ia melangkah ke dalam hutan kehidupan, meninggalkan kenyamanan demi mencari jati diri yang sejati.

Perjalanan itu adalah ujian, bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi jiwa. Di balik rimbun pepohonan dan sunyi semesta, ia menghadapi ketakutan, menaklukkan keraguan, dan menggenggam keberanian.

Ia akan kembali tidak hanya membawa kepala sebagai simbol kemenangan, tetapi juga membawa nilai, pelajaran, dan kedewasaan yang tak terlihat oleh mata biasa.

Saat langkah kaki sang kesatria menginjak kembali tanah kelahirannya, kabar kedatangannya disambut dengan gegap gempita oleh para tetua.

Dengan suara yang menggetarkan hati, mereka mengumumkan bahwa putra terbaik telah kembali — utuh, tangguh, dan siap membangun kehidupan baru.

“Makna yang diberikan merupakan suatu keberanian, jiwa kesatria,” ucapnya.

PT Berau Coal dan mitra kerja antara lain PT Pamapersada Nusantara dan PT Bukit Makmur Mandiri Utama turut hadir membawa angin segar.

Memberi dukungan dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat, guna membantu suksesnya acara Bekudung Betiung tersebut.

Ucapan terima kasih dihaturkan Kepala Adat Tumbit Dayak, Muksin. Bersyukur, sebagai wujud kepedulian perusaaan di lingkar tambang, PT Berau Coal dan mitra kerjanya bahu membahu membantu terlaksananya kegiatan ini.

“Kami ucapkan terima kasih kepada PT Berau Coal dan mitra kerja,”ujarnya.

Kepala Kampung Tumbit Dayak, Ahmad Jamlan, juga turut bersyukur Berau Coal dan mitranya selalu mendukung setiap ada kegiatan di kampung yang ia pimpin.

“Ya mereka (Berau Coal) selalu ada saat kami butuh,” ungkapnya.

Terpisah, Community Relations Manager PT Berau Coal, Muhammad Sulaiman, mengungkapkan, pihaknya berkomitmen guna memajukan budaya dan pariwisata yang ada di Berau.

Tentu bantuan yang diberikan, diharapkan bisa bermanfaat untuk jalannya prosesi Bekudung Betiung.

Sulaiman menuturkan, perayaan Bekudung Betiung, diharapkan bisa masuk ke dalam event kalender pariwisata nasional, sehingga lebih banyak wisatawan yang akan datang dan Tumbit Dayak, akan semakin dikenal.
“Saya berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut, ini suatu kebudayaan yang sangat indah,” pungkasnya. 

Sumber: beraupost.jawapos.com